Barangkali pulau tercantik dari seluruh pulau tropis Maluku adalah kepulauan Banda, dengan kota terbesarnya Bandanaira. Kepulauan ini tak cuma menyodorkan taman laut, perairan sejernih kristal, dan tempat diving kelas dunia. Akan tetapi juga sejarah tentang rempah, perang, dan imperialisme yang pernah mengubah wajah dunia.
Bandanaira terletak sekitar 140 kilometer tenggara kepulauan Maluku, bisa ditempuh tak sampai 1 jam dengan pesawat Cassa atau sekitar 8 jam berlayar dengan kapal penumpang dari Kota Ambon.
Pulau terbesar di kepulauan Banda adalah Lontor yang bentuknya menyerupai pisang. Pulau itu mencakup separuh luas kepulauan Banda, akan tetapi sebagian besar daratannya terisi oleh kebun pala.
Di tengah wilayah Kepulauan Banda terdapat Bandanaira dan Pulau Gunung Api, sebuah vulkanik berbentuk kerucut yang sesekali menghembuskan asap. Gunung itu dulunya gunung berapi besar, sampai sekarang dapur magmanya masih aktif dan sewaktu-waktu menyemburkan material.
Beberapa kilometer di timur Lontor, terdapat Pulau Rozengain. Sedangkan di sebelah barat ada tiga pulau kecil bernama Ai, Run, dan Neijalakka.
Bandanaira adalah kota terbesar di kepulauan tersebut. Karakter tempat ini hangat, membuat turis manapun mabuk kepayang. Setiap senja mencapai ujungnya, segala penjuru Bandanaira warna-warni bak baru ditumpahi cat yang melejit dari palet pelangi. Tempat terbaik untuk menikmati senja ialah Benteng Belgica.
Dulu Bandanaira lebih dikenal dengan nama de ‘Klein Eropeesch Stad’ atau Kota Eropa Kecil. Benteng, perkebunan pala, rumah-rumah Belanda, dan kediaman pengawas serta Gubernur Jenderal VOC yang pertama dibangun di sini. Itu sebabnya Bandanaira termasuk salah satu kawasan paling tua di timur Indonesia.
Sepanjang konflik Indonesia-Belanda, Bandanaira juga digunakan sebagai tempat pembuangan bagi tawanan politik. Sebut saja Mohammad Hatta (1936-1942), Sutan Syahrir (1936-1942), Iwa Kusuma Sumatri (1930-1940), dan Cipto Mangunkusumo (1928-1940), serta beberapa tokoh seperti Parto Ngasam. Rumah-rumah bekas kediaman para buangan kini direnovasi dan dipakai sebagai museum.
Perairan menuju Kepulauan Banda biasanya teduh sekitar bulan-bulan Oktober-Desember dan Maret-Mei. Toh, Bandanaira tetap bisa dikunjungi sepanjang tahun sebab pelabuhannya terlindung dari gelombang laut lepas.
Musim hujan di Bandanaira berakhir pada pertengahan Juni sampai Agustus. Sedangkan angin kencang bertiup sekitar pertengahan Januari sampai Februari dan muson timur bertiup pada Juli dan Agustus, hal itu membatasi aktivitas turis di laut.