Bandanaira memiliki banyak spot penyelaman kelas dunia, lokasi masing-masing berdekatan sehingga memudahkan turis. Bisa dibayangkan ada 52 situs selam yang mudah dicapai.
Kalau dulu pelabuhan dan dermaga sekitar Bandanaira dipenuhi oleh kapal besar pengangkut pala, sekarang yang tampak cukup mendominasi adalah liveaboard.
Bandanaira ibarat ruang museum besar. Dalam jarak yang mudah ditempuh dengan berjalan kaki, turis bisa singgah ke petilasan tempat sejarah dunia diperankan dari pulau kecil ini. Antara lain Museum Rumah Budaya, Istana Mini, Benteng Belgica, dan Rumah Hatta.
Jika wisatawan berada di tempat ini pada April atau Oktober, atraksi balap perahu kora-kora bisa ditonton. Lokasi penyelenggaraannya yaitu perairan antara Bandanaira dan Gunung Api. Atraksi yang satu ini seru sekali, pantang dilewatkan.
Hotel tempat wisatawan menginap biasanya bisa mendatangkan grup penari cakalele juga, sejenis tari perang yang sangat menarik. Apalagi penari memakai atribut berupa helm Portugis dan beberapa peninggalan tua.
Ya, Bandanaira memang paket komplit bagi wisata. Usai berlelah-lelah, kenikmatan ini tinggal dilengkapi dengan menyantap hangatnya pisang goreng bersama selai pala, khas Bandanaira. Lalu menyeruput teh kayu manis yang dituangi gula pandan.